Sunday, 10 January 2016

Kenapa Resign (Part I)


Sudah 10 hari saya tidak bekerja. Dan pertanyaan semisal ‘Kenapa resign?’ ‘Loh kok ngga di Sabang, kan weekday ini’ masih terus bermunculan. Jawaban saya kadang-kadang serius, tapi ngga jarang juga ngasal. Udah ngga tau mau jawab apalagi. Yang di BBM, Whatsapp, ditanya langsung. Belum lagi kemarin baru aja ada acara keluarga, dimana semua saudara bermunculan. Biasanya di acara seperti itu pasti yang ditanyain ‘Kapan bawa calon ke rumah?’ tiba-tiba berganti di hari itu ‘Jadi, Kenapa resign’ Pppffiuuuuuh..

Keputusan resign ini bukanlah hal spontan yang saya ambil. Berminggu-minggu saya habiskan untuk berdiskusi panjang dengan teman, senior, atau siapa saja. Setiap hari kerjaannya browsing artikel dan baca blog orang. Meyakinkan orang tua adalah hal yang paling menguras emosi. Seperti orang tua lainnya, orang tua sayapun khawatir. Belum lagi waktu mama bilang kalau beliau bangga saya bisa bekerja dengan hasil keringat sendiri dari awal recruitment. Hampir semua orang menyuruh saya bertahan dengan alasan tingkat pengangguran sangat tinggi di luar sana. Pekerjaan saya adalah mimpi banyak orang, kenapa saya tidak bersyukur. Padahal saya resign bukan karena tidak bersyukur. Hiks..

Satu hari teman saya bertanya kenapa saya terlihat kacau, “Aku mau resign”, jawab saya lemas. Dan jawabannya menohok sampai ke tulang “Cem, hari gini itu bukan lagi masanya mikirin mimpi, tapi gimana bertahan hidup, gimana kita nyari duit”
Ada juga komentar teman lain via BBM “Ya ampuuun Kaaaak, apalagi yang dipikir dengan gaji segitu. Abaikan saja batinmu. Hehehehhe”. Padahal gaji yang saya dapatkan juga udah ada posnya sendiri. Bayar kosan, uang makan, laundry dan biaya transportasi pulang ke daratan.
Banyak komentar lainnya yang sangat perlu dipertimbangkan. Logis sekali. Tapi saya terpana, benarkah pencapaian hidup hanya diukur dengan materi saja? Pernah sekali saya jawab “Apa yang kita kejar sekali dalam hidup ini? Uang?”, yang kemudian dijawab, “Memang apa?” Jedeeeeeeerrrr..
Teman-teman dekat saya tidak ada yang kaget dengan resign nya saya. Dua bulan pertama bekerja saya pernah berniat mengundurkan diri. Tapi itu hanyalah tekanan anak baru yang belum terbiasa, itu hal yang wajar. Bukan hal yang mudah untuk karakter seperti saya menempatkan diri dalam irama kerja para banker. Tapi seiring waktu, saya mulai nyaman dan terbiasa. Rasa kekeluargaan di kantor yang sangat besar membuat betah, pekerjaan juga terasa lebih mudah. Tapi ketika keinginan kamu begitu besar, ketika kamu terus-terusan bertanya ke diri sendiri ‘Should I stay or quit?’, ketika kamu sendiri ragu kamu sedang melakukan apa, pikirkanlah matang-matang. Pondasi kamu sedang goyang.
Saya mencari jawaban dari pihak iternal maupun eksternal kantor. Dari teman, senior, supervisor, kepala unit bahkan service manager. Jauh sebelum surat pengunduran diri saya masukkan, Supervisor pernah bilang “Abang paling salut sama orang yang berani resign, top, jempolan. Daripada dia duduk di warung kopi ngomongin gimana ngga betahnya dia dengan kerjaan, jelek-jelekin atasan, tapi tetap bertahan kerja, nunggu gajian tanggal 25”.

Akhirnya di penghujung Oktober, ketika orang tua sudah paham dan setuju, saya menyerahkan surat pengunduran diri kepada kepala unit. Masih ada suara-suara kecewa dan sejumlah tanya, tapi tekad saya sudah bulat, di masa 2 bulan lagi bekerja itu, saya tetap bekerja seperti biasanya. Masih banyak juga yang complain, tapi pegangan saya adalah orang tua. Ketika Ayah dan Ibu tidak berkata apa-apa lagi, saya khatamkan telinga saya dari omongan yang lain. Kita tidak perlu terlalu keras menjelaskan pilihan kita pada orang lain. Dari mereka ada yang peduli, ada yang Cuma penasaran, ada juga yang iseng aja nanyain. Tadi siang saja masih ada yang komentar “Susah sih ya kalau orangnya bosenan”. Apalagi kalau usia pekerjaan kita masih di kisaran 1-2 tahun, beragam komentar terdengar; kutu loncat, tukang uji coba. Selow aja.

Sebelum resign saya sudah lebih dulu membagi dua alasan; bertahan atau resign. Itu pilihan besar. Pikirkan lagi alasan pertama kamu bekerja apa, keputusan yang diambil akan lebih mudah. Terlalu banyak curhat juga ngga baik, kaya saya, bingung sendiri akhirnya termenung-menung. Hahahahhaa.. Tinggalkan tempat kerja dengan baik. Saya meninggalkan sebagian hati saya di Kota Sabang, kota itu dipenuhi dengan orang-orang yang lovely. And I leave the company with pride. Walaupun akhirnya keluar, banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil; yang teoritis, keuangan, terutama sekali tentang kehidupan. Pikiran saya benar-benar ditempa menjadi dewasa dan terbuka. When you choose to stay, good. When you choose to quit, good too. Jalani keduanya dengan baik. Your choice :)

Cheeeeeeeeeersss..

19 comments:

  1. Awalnya berat kan kak? Pertanyaan2 itu wajar mereka tanya, ya mereka ga seberuntung kita.
    Wuih, baru 10 hari ya kak? Ak sebulan udah ni. Hati2 sama tabungan ya kak 😂
    Always smile kak cem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fauzan: hihihihi.. Semangat, Kawan yudusium dan wisudanya akuh. Hati-hati sama tabungan bener banget dek, ini aja mau dinon aktifin kartu pasca bayar kakak xD

      Delete
  2. yess.. akhirnya ada jg kwan yg berani resign.. hidup icem... g ush takut dek. rezeki ada sama Allah, tinggal pintar2 kta meminta sama Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaaaayyyy.. Hiduuuuuuuupp.. Makasiiih Bang/Kak.. Hehehehe
      Siapa sih ini ngga ada namanya? Pasti temennya Kakak Jan
      InsyaAllah rejeki ngga kemana :')

      Delete
  3. yess.. akhirnya ada jg kwan yg berani resign.. hidup icem... g ush takut dek. rezeki ada sama Allah, tinggal pintar2 kta meminta sama Allah

    ReplyDelete
  4. Resign? I knew how it feels. Galau abis kan. After that, jalanin aja hidup seperti apa yg kita inginkan.Kalau mmg gk nyaman ngapain diteruskan. Yg ptg jgn menyerah dan terus berusaha. Inshaallah rejeki gk akan kmn. Keep spirit. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiii, Sri.. Iyah, galau kali-kali ngga tau bilang. Alhamdulillah sedang jalanin idup yg diinginkan, semoga lancar dan dimudahkan ya, Hehehehehe..
      Semangat jugaaa :*

      Delete
  5. Haii annisa :)

    aku juga mau bagi pengalaman. Sama seperti kamu aku juga berani ambil keputusan untuk resign. dengan tanpa pegangan pengganti (a.k.a pekerjaan baru). Ketenangan batin lebih diutamakan. Alasan aku selain ketenangan batin juga karena Jakarta lagi gila2nya dalam tahap pembangunan. Baik yang naik bis atau kendaraan pribadi berangkat & pulang adalah siksaan ternyata. Dan aku naik motor PP ke kantor ;'( betapa lelahnya jiwa dan raga kalau habis pulang kerja. *ehh curcol...

    Tapi yakin aja. Nanti juga ada rejeki mengalir dari kamu berhenti dari kantor sebelumnya. Ambil poinnya; kamu nggak jodoh sama kantor itu.
    Dan selagi aku nggak ngantor, aku gali potensiku yang dulu sempet ketunda karena bekerja. Bahkan kalau bisa potensi ini bisa menghasilkan. Tapi memang harus pegang komitmen sih kalau ingin kerja perseorangan :)

    Yang penting tetap semangat dan jaga tabungan. Hindari bepergian berlebihan kalo gak perlu heheee...
    oya, aku udh 8 bulan stay kerja dari rumah. Urusan pendapatan? alhamdulillah adaaa aja jalannya dari Allah :)

    Semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaii Jelita :)
      Makasih udah sempetin visit dan baca. Terharu banget kalo ada yang paham. Hahahahahaha
      Kebayang sih say, kerjaan aku juga bikin aku jarang liat matahari sore :')
      Kebayang gimana capeknya. Bagian potensi yang ketunda, aku juga paham, we're in the same shoe.
      Aku sekarang lagi di kampung halaman, jarang-jarang dulunya aku pulang. Tapi di sini lebi hemat kan. Hehehehehehe

      Udah 8 bulan yaa? Waaah, sukses yaaa untuk usahanya <3

      Delete
    2. Thank youuu! <3

      Capri girls having an abilities to be more creative than another zodiacs (pede banget sih yah, biarin lah jadi motivasi hahahahahahaaa...)

      Mungkin saat kamu lagi di kampung halaman ada hal2 yg bisa kamu lirik utk jadi 'sesuatu' disitu.

      Take a rest for 2 or 3 weeks, give compliments for your body & soul. After that, you can see clearly how beautiful world in every each detail things and back in the game again.

      Good luck!

      Delete
    3. Jelitaaaa.. I've rested for about three weeks, now I am ready for other adventures. Mihihihihih

      Delete
  6. Kakaaa, aku sedih bacanya :'( kadang memang keputusan yang kita ambil udah bulat banget masih aja diragukan orang, padahal yang jalanin hidup kita kan kita :'( aku dulu juga pengen kerja di bank, bank Indonesia, berkesempatan magang disana selama 1 bulan benar-benar bikin niat aku mundur, ternyata cape banget pekerjaan banker, di bagian aku magang juga hampir semuanya cowok, setelah cerita-cerita sama pegawai cewek, banyak yang resign karena gak tahan pekerjaan di BI yang berat, datang jam 06.30 WITA dan pulang jam 9 WITA hampir tiap hari. Bahkan saat aku magang ada dua pegawai cewek yang resign.

    Tetap semangat kaka insyaAllah ada hikmah dan jalannya sendiri dibalik semua ini ^^


    My Little Cream Button ♥

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Ayu sayang <3
      Orang emang seneng komentar sih kan? That's life.
      Tugas kita adalah tanggung jawab dengan pilihan dan keputusan yang diambil.
      Kerja itu sama kaya jodoh, kita bakal banyak ngabisin waktu kita dengan hal tersebut. Choose wisely.
      InsyaAllah banyak pelajaran yang bisa kakak ambil.

      Ayu jugaaaa, semangat yah..
      XoXo

      Delete
  7. Salam. So, u quit your job? I'm sure you'll figure out what's next. Have a blast and good luck!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Naaaaaaaaaaaaiiiii..
      I miss youuuuuuu :*

      I've thought for quite a long time before deciding to quit, now I am ready for the next stage.
      Hihihihih

      Delete
  8. Dek, kk kok kepingin dipecat aja ya. Kan kalo dipecat dapat pesangon. Hahaha. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita ya

    ReplyDelete
  9. Maybe saya akan ikuti jalan kamu. Apa yg kamu tulis disitus ini adalah yang saya rasakan.
    Tuhan baik karena kasih saya kesempatan kedua untuk coba stay dan membulatkan tekat dari pertanyaan saya dipenghujung kontrak taun lalu. Dan sekarang saya uda achived target dan pertanyaan itu muncul lagi. Stay or leavin.
    Bismilla dengan keputusan saya nantinya ada hikmah dan tidak salah walaupun berat untuk membangun kembali. Thnks buat posting pengalamannya.

    ReplyDelete
  10. Maybe saya akan ikuti jalan kamu. Apa yg kamu tulis disitus ini adalah yang saya rasakan.
    Tuhan baik karena kasih saya kesempatan kedua untuk coba stay dan membulatkan tekat dari pertanyaan saya dipenghujung kontrak taun lalu. Dan sekarang saya uda achived target dan pertanyaan itu muncul lagi. Stay or leavin.
    Bismilla dengan keputusan saya nantinya ada hikmah dan tidak salah walaupun berat untuk membangun kembali. Thnks buat posting pengalamannya.

    ReplyDelete

Thank youuuu for dropping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...